Sekali Lagi
Posted: January 6, 2016 Filed under: Uncategorized Leave a commentKamu menolehnya lagi. Seperti seseorang yang sudah sangat akrab berjalan menemuimu. Berjalan dengan cara jalannya yang khas. Kakinya yang jenjang serta tubuhnya yang tidak terlalu kurus. Berjalan menghentak, sehigga terdengar oleh penghuni lain di lantai bawah. Berjalan dengan kepala yang tidak bisa diam, menoleh atau menunduk. Lalu ia akan ada di hadapnmu, menemuimu tanpa seijinmu. Kamu hanya bisa membalas senyum.
Belum setengah tahun. Tapi rasanya kamu sudah seperti bertahun-tahun tak menemuinya. Padahal bisa saja jika kamu ingin bertemu, tinggal sampaikan pesan singkat padanya. Bisa juga kamu sengaja menghampirinya di kampus, lalu menghadiahi makan siang bersama. Sangat mudah bukan?
Tapi kamu memang bukan seperti itu. Kamu sadar betul akan siapa dirimu. Kamu percaya bahwa dia akan datang menemuimu disaat kamu menginginkannya. Kamu akan menunggu tanpa sadar. Kamu akan sengaja membukakan pintumu agar ia dapat datang kapanpun ia mau, Kamu sengaja menyiapkan dua cangkir teh, walaupun akhirnya kedua cangkir teh habis dalam tegukanmu. Kamu sengaja menyiapkan makanan kecil atau film pendek untuk membuatnya tetap bahagia di sisimu, Kamu sengaja keluar agar ia tahu kamu tidak sibuk jika ia kunjungi. Dan kamu selalu menyediakan waktu dan perhatianmu, walaupun kamu tahu ia tak bermaksud meminta kepadamu.
Sekali lagi, kamu menolehnya. Banyak kebiasaannya yang samar-samar kamu ikuti. Diam-diam kamu mengenangnya. Dan kamu simpan rapat-rapat dalam dalam waktu dan ruang yang berjarak.
Sekali lagi, kamu mengenangnya. Banyak pesan terkirim yang kamu baca kembali. Diam-diam mengingat wajahnya. Dan kamu biarkan wajahnya memenuhi layar handphone, tanpa suara tanpa gerak.
6 januari 2016
[IDVolunteering] BERBAGI ADALAH SALAH SATU CARA SALING MENGASIHI
Posted: November 23, 2015 Filed under: Lomba, Tinta tumpah 23 Comments
Three keys to more abundant living: caring about others, daring for others, sharing with others –William Arthur Ward
Percaya atau tidak, kita sering terjebak pada perasaan untuk lebih memikirkan diri sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum kita miliki, mengkoreksi diri atau sekadar menikmati di dunia sendiri.
Tetapi, pernahkah kamu melihat lebih jauh pada dunia yang sebenarnya. Benar-benar membuka mata hati, lalu mencari tahu apa yang ada di luar sana. Perasaan takjub dan bersyukur itu pasti akan datang. Dengan tidak hanya melihat apa yang ada di atas kita. Juga yang terjadi di samping kita atau bahkan yang ada di bawah kita.
Ya. Salah satu cara untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri adalah mencoba untuk peduli pada yang lain. Jika terlihat sepele, itu artinya kamu belum benar-benar untuk mencoba peduli pada yang lainnya.
***
Melakukan perjalanan ke pelosok Banten dengan tujuan liburan adalah salah satu agenda di bulan Juli 2013. Tetapi dibalik misi menyenangkan diri sendiri, ada misi yang jauh lebih mulia di atas kepentingan pribadi. Menjadi seorang volunteer di bidang pendidikan.
Kegiatan menyenangkan yang bertepatan di bulan Ramadhan itu ialah kali pertama menjadi seorang volunteer. Kebetulan, kami yang berpartisipasi sebagai volunteer ini adalah hasil seleksi. Yah, rasanya menyenangkan sekaligus takjub. Ada di antara orang-orang terpilih untuk melaksanakan misi mulia.
Kegiatan ini bernama Mari Mengajar. Mari Mengajar adalah salah satu program kerja yang dibuat oleh Pengabdian Masyarakat Forum Komunikasi Mahasiswa dan Alumni Universitas Indonesia asal Banten untuk Banten (http://marimengajar.tumblr.com/page/2). Ketika mereka mempublikasikannya di sosial media dengan iming-iming “Kegiatan ini menampung seluruh mahasiswa/i asal Banten dari berbagai kampus di dalam & luar Indonesia yang memiliki kepedulian tinggi untuk mengabdi di kampung halaman” (https://kitabisa.com/marimengajar4), sungguh memberikan daya magnet bagi siapa saja yang ingin melakukan misi sosial tersebut.

(dokumentasi Mari Mengajar 2)
Dengan rentan waktu 7 hari, saya menjadi seorang volunteer guru di desa Cigeulis, Pandeglang, Banten. Ya, merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang guru pengganti di daerah terpelosok. Menemui siswa di kelas yang jumlahnya tidak lebih dari 20 orang (selain karena jumlah penduduk wajib sekolah dasar yang sedikit, juga karena masih ada yang menganggap pendidikan bukanlah suatu hal yang penting). Bertemu dengan siswa-siswa yang memiliki pribadi yang menarik, serta bertemu guru-guru yang justru jauh lebih inspiratif walupun di desa terpelosok.
Terjun langsung untuk menjadi seorang volunteer terutama di bidang pendidikan, benar-benar membuka mata saya lebar-lebar juga memberikan saya banyak informasi. Banyak hal yang masih melekat dalam ingatan saya. Seorang sisiwi kelas 1 yang tidak naik kelas satu kali. Tetapi ketika ia diminta menggambar, wah gambarnya luar biasa bagus, tidak seperti teman-teman sesusianya. Gambarnya rapih, berwana sesuai bahkan membuat saya menjadi iri (karena saya tidak pintar menggambar 😀 haha). Atau saat kami mengajar dengan menggunakan metode belajar yang kreatif dan aktif, seperti membuat wayang-wayangan untuk belajar bahasa Indonesia, membuat perhitungan dengan biji-bijian, dsb. Dan satu lagi, kami tidak lupa mengajarkan hal-hal yang kadang dilupakan oleh guru maupun orang tua. Membentuk karakter. Kami mengajakan mereka untuk percaya diri, berani bertanya, bertanggung jawab akan tugasnya, disiplin juga karakter lain yang bersifat positif. Sedini apapun mereka, kita wajib menanamkan hal-hal yang positif untuk mereka. Kelak, generasi penerus ini akan memiliki pribadi positif untuk Indonesia.

mendongeng dengan boneka tangan (dokumentasi Mari Mengajar 2)
Sejak hari itu. Sejak pengalaman pertama itu. Saya mengerti akan banyak hal. Saya memang mengarapkan liburan kala itu. Tapi, memberikan pendidikan untuk adik-adik saya di sana ialah liburan yang lebih menyenangkan. Saya tidak pernah menyangka, bahwa memberikan kebermanfaatan dan kebahagiaan untuk orang lain adalah kebahagiaan paling sederhana dalam hidup saya. Tidak melulu soal materi untuk bisa berbagi. Tetapi juga senyum, pengalaman, pendidikan, kemampuan bahkan doa.
Well, bagi saya volunteer adalah pekerjaan yang tidak pernah bisa dibayar dengan materi. Mereka justru menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk tujuan kemanusiaan. Misi-misi mulianya bukan hanya bermanfaat untuk orang lain, juga mendapatkan pengalaman untuk diri sendiri. Seperti saya di Cigeulis. Saya tidak merasa memberikan banyak hal pada adik-adik saya di sana, justru saya merasa yang mendapatkan banyak pelajaran dari mereka. Saya belajar semangat, bagaimana terus mencintai proses juga belajar bagaimana berjuang untuk pendidikan. Itulah mengapa, para volunteer tidak pernah bisa dibayar. Karena jikalaupun meraka harus dibayar, maka tak ternilai-lah harganya.
Semoga di antara kita, termasuk saya, masih memiliki cita-cita untuk berbagi. Melakukan misi-misi mulia sebisa dan semampu apapun kita. Menjadi volunteer dengan cara kita masing-masing. Terpenting tujuan kita tetap sama, berbagi adalah salah satu cara saling mengasihi.
***
Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahualaihiwassalam dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah Shallallahualaihiwassalam menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan”.
Ingin menjadi volunteer juga? Kunjungi volunteer
“BEING KIND TO YOURSELF” – Psychology Writing Challenge (1)
Posted: November 20, 2015 Filed under: Psychology Time Leave a commentKadang-kadang kita jauh lebih ramah terhadap orang lain dari pada diri kita sendiri. Pernah merasa seperti itu? Mungkin beberapa dari kamu pernah. Atau memang kita semua pernah melakukannya, sadar atau tidak.
Memang, sedikit atau banyak saya juga pernah merasa tidak lebih ramah kepada diri saya. Yah misalnya saja, terlalu menghakimi diri sendiri karena telah melakukan kesalahan. Mengecam bahwa diri sendiri adalah manusia paling gagal, bodoh, dan lain hal yang bersifat negatif.
Nah kalau sudah seperti ini, kita harus bagaimana. Bukankan orang bijak sering mengatakan “berfikirlah positif, maka kamu akan menjadi pribadi yang positif” syukur-syukur bisa menebarkan kepositifan terhadap orang lain. Eh tapi kenyataannya, kita malah mengatakan hal-hal buruk dan negatif untuk diri kita sendiri.
Untuk mengawali “Psychology Writing Challenge” sengaja saya memilih tema “Being Kind to Yourself”. Alasan spesifiknya sih memang nggak ada, tapi saya akhir-akhir ini sedang banyak menemukan cerita dan masalah seputar hal tersebut. Contohnya saja perasaan minder yang banyak di rasakan teman-teman. Atau ada juga yang lagi sibuk menata diri, mencoba memahami diri dan bersusah-payah tapi malah merasa dirinya tidak memiliki hal menarik sedikitpun. Efeknya, yah ada yang kurang percaya diri, ada yang semakin minder, ada juga yang malah masa bodo dengan dirinya. Eitss, kalau kamu saja tidak meramahkan dirimu, jangan berharap ada orang lain yang mau meramahkan dirimu.
Alasan untuk menjadi lebih ramah terhadap sendiri sudah jelas kan yah? Atau masih bingung? Oke masih nyimak kan yah? 😀
Banyak diantara kita sedang meningkatkan kualitas diri. Ada yang meningkatkan kualitasnya dengan pengetahuan dan prestasi, ada yang dengan menggunakan spiritual atau ibadahnya, dan ada juga yang menigkatkan kualitasnya dengan penampilan fisiknya, serta masih banyak lagi. Saat kita mencapai hal-hal yang lebih baik lagi dalam hidup kita, kadang kita tidak dibarengin dengan memotivasi diri sendiri. Belum apa-apa sudah mengkritik diri sendiri “ihh, kenapa sih ngga bisa kaya dia? Apa sih yang kurang dari aku” atau “bodoh banget sih masa kaya gini aja ngga bisa” dan masih banyak keluhan serta kritikan terhadap diri sendiri. Dan pada akhinya, bukan kualitas hidup yang lebih baik yang kita dapat, justru kita sedang mengecilkan diri kita sendiri. Well, manusia kadang memang seperti itu. Dan tau ngga apa yang lebih bahaya dari itu semua? Yaitu, ketika kamu sampai pada titik dimana kamu mewajarkan semua kelemahan kamu, seperti kalimat “Da aku mah apa atuh”. Oke, saya garis bawahi, bahwa meramahkan diri sendiri bukan berarti terlena dan mewajarkan akan kelemahan diri sendiri. Yupss, kamu harus terima kondisi dimana kamu tidak bisa melakukan sesuatu, bukan untuk dikritik dan menghakimi diri. Setiap manusia pasti akan pernah menghadapi masa dimana mereka tidak bisa melakukan sesuatu, melakukan kesalahan ataupun menghadapi kegagalan. Jadi pada dasarnya semua manusia akan merasakan hal yang sama. Hal yang perlu kamu perbaiki adalah bagaimana untuk berfikir terbuka, berfikir bahwa semua masalah itu bisa kamu hadapai.
Nah setelah kamu mengerti akan kekurangan dan kesalahan atau bahkan kegagalan yang terjadi, itu bisa jadi sebagai pelajaran yang berharga untuk kamu. Dan kamu akan mendapatkan hal yang lebih berharga seperi pelajaran hidup bahkan kamu bisa meregulasi diri kamu sendiri.
Oke, Being Kind to Yourself memang bukanlah hal yang bisa dilihat secara umum. Ini menuntut kamu untuk lebih bisa mengenal siapa diri kamu sebenarnya, dan percayalah, meramahkan diri adalah salah satu cara bersyukur yang paling sederhana. (Dita,20/11/2015)
Dunia Baru di Media Sosial
Posted: October 4, 2015 Filed under: Tinta tumpah Leave a commentSiang tadi saya mengadakan diskusi dengan beberapa kakak tingkat. Dalam waktu singkat tapi berkualitas, kami membahas beberapa mosi dalam sesi debat yang sebentar lagi akan di adakan di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Mosi yang kami bahas salah satunya ialah seputar media sosial.
Bukan hal yang awam jika membahas soal media sosial. Untuk era digital seperti sekarang, media sosial merupakan hal krusial yang selalu ada di dekat kita. Bahkan sebagian besar dari kita menganggap bahwa media sosial adalah “nyawa kedua”.
Bukan hanya harus ada setiap saat. Media sosial yang menjadi alat komunikasi, juga dikenal sebagai refleksi diri. Banyak dari kita membagikan cerita lewat media sosial. Bisa lewat kata, foto bahkan video. Hal ini lah yang kadang kita gunakan sebagai salah satu alternatif untuk mengenali seseorang lebih dalam.
Lalu, apa sajakah yang kita sampaikan di media sosial? Beragam jawabannya. Jika kita memperhatikan timeline beranda kita, akan ada banyak postingan yang membahas dari hal yang tidak penting sampai jawaban persoalan dari pertanyaan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari soal rutinitas kehidupan, prestasi yang baru dicapai, hal-hal inspiratif, fenomena politik dan sosial bahkan sampai kehidupan pribadi. Seakan-akan, masing-masing dari kita menciptakan dunia baru di media sosial.
Kita berlomba-lomba memberikan kesan terbaik di dunia baru media sosial.
Terutama soal kehidupan pribadi kita. Menyampaikan hal-hal menarik yang baru didapat contohnya. Tentu saja, selain memberikan self image positif, media sosial kadang dijadikan tempat pelampiasan dari dunia nyata. Pernah lihat, teman yang kehidupan aslinya terlihat pendiam, tetapi ketika kita lihat di media sosialnya sangatlah aktif. Bisa memposting lebih dari tiga kali sehari dengan jenis media sosial yang berbeda-beda, bahkan lebih dari itu (lebih dari dosis minum obat :D). Selain itu, teman kita ini bahkan menceritakan kehidupannya yang sedang galau atau bahagia dengan tanpa batasan sedikitpun. Dan setelah kita menemuinya dan bertanya secara langsung, teman kita lebih memilih untuk menghindar dan berkata “tidak ada apa-apa ko”. Nah jadi bingung kan mengatasinya.
Yah, dunia baru media sosial ini tidak dapat kita cegah perkembangannya. Tetapi kita masih bisa mengendalikannya. Tujuannya apa? Tentu saja, kita membuat hidup baru kita di media sosial ini lebih positif dan berguna. Masa, kehidupan nyatanya sudah berantakan, tapi masih saja membuat kehidupan baru yang berantakan. Kalau dua-duanya berantakan, bingung kan menata ulangnya.
Pola pikir kita tentang media sosial perlu diperbaharui. Kata kakak tingkat saya (teh Mufti), kita punya tanggung jawab terhadap apa yang kita tulis kepada pembaca. Jangan hanya sekadar menyampaikan sesuatu tetapi tidak memikirkan untung-ruginya. Sampaikan segala sesuatu bukan hanya hasilnya. Walaupun pada hakikatnya manusia ingin dinilai baik. Sampaikanlah proses dari hasil yang dicapai. Percayalah, bukan hanya kita yang jadi lebih mencintai proses, tetapi orang lain juga akan termotivasi dengan apa yang kita posting. Kamu akan menginspirasi tentunya.
Kita memposting berbagai hal dalam akun media sosial kita yang jumlahnya tidak hanya satu, juga akan melihat dan mencari tahu postingan-postingan orang lain. Bijaklah untuk menyampaikan dan membaca postingan tersebut. Bentuk karakter positif dimulai dengan memberi dan mendapatkan hal-hal yang positif. Dan buat duniamu lebih berkarakter tentunya.
Selamat membuat dunia baru yang lebih berkarakter postifi yah guysss 🙂
Ketika Rindu Tak Berpulang
Posted: October 3, 2015 Filed under: Tinta tumpah Leave a commentDari sekian rasa,
Bisa jadi rindu yang tak kau sukai.
Dia senang menghampiri, tanpa sempat kamu pinta sebelumnya.
Menjumpai kesepian,
berhalang jarak,
terbentur ruang,
dipisah waktu,
dan bisa saja tak bertuan.
Bila rindu bertamu, apakah alasan ia untuk kembali pulang?
Tentu saja setelah rindu menemui tuan dan atau nyonya-nya.
Untuk apapun maksudnya.
Sayangnya, sebagian dari kita, tidak mendewasakan rindu.
Memilih menumbuhkan rindu dengan kesendirian, kenestapaan, keterpurukan
Menyalahkan keadaan dan hidup berlama-lama pada kekosongan.
Dan akhirnya, menikmati segala kesusahan.
Sayang…
Ketika rindu tak berpulang,
Ketika rindu mulai merepotkan,
Ajarkan bahwa cinta tak melulu soal rindu,
Ajarkan mengubah rindu sebagai semangat dan alat pendewasa untuk kita.
Ajarkan rindu belajar agar dapat menyematkan kata “saling” dalam hubungan kita.
Bukankah kita tengah meningkatkan kualitas hidup kita masing-masing?
Yakinkan Pencipta bahwa kita adalah sepasang manusia yang bisa membaikan satu sama lain.
Dan sisanya, yakini bahwa akan ada masanya dimana rindu tak perlu berhalang jarak, terbentur ruang, dan dipisah waktu lagi, karena kita akan menuju rumah yang sama.
Untuk rindu yang berusia menuju empat tahun.
Soal Kita
Posted: September 11, 2014 Filed under: Tinta tumpah | Tags: Tinta Tumpah Leave a commentKemarau berlalu.
Kita terpantul dalam rimbunan masa lalu.
Sama-sama menapaki jalan terjal, mengendus-ngendus aroma masa depan.
Yang mereka bilang soal harapan, yang mereka bilang soal doa.
Ada yang terluka, ada yang menghindar.
Ada yang bahagia, ada yang mencari tawa.
Membusungkan dada bagi yang terdepan, menikam rasa dengan angan-angan.
Persetan masa depan, omong kosong bagi yang berlalu.
Kita hanya berandai atau terbuai.
Apa akan indah jika kata hanya sebuah prosa, akankah bermakna jika kita hanya sebait syair.
Kita menjelma dalam kekosongan, tentang perkara hati tanpa empati.
Dibalik wajah terselip puluhan topeng.
Menipu dan ditipu.
Syair dipertengahan September 2014
Per-andaian Klasik
Posted: May 26, 2014 Filed under: Tinta tumpah Leave a comment“Ahh, aku ingat tentang…..”. Di antara kita, bukankah banyak kehidupan-kehidupan kecil yang menelusuri manisnya aroma pagi ataupun hangatnya senja dengan caranya masing-masing. Tak terkecuali diri kita sendiri.
Sesekali akan diorama yang sedang dijalani, kita akan menoleh entah kanan atau kiri, maupun depan atau ke belakang. Kita menikmati namun merisaukan.
Dalam lamunan kita masing-masing, kadang kita ingin kembali menyusuri labirin kenangan. Tersesat penuh rasa hangat. Ia menjelma dalam labirin yang pernah kita lewati sebelumnya. Tidak banyak kita menemukan jalan buntu atau harus memutar arah. Sesekali kita pastikan bahwa jalan yang kita pilih akan berakhir pada yang seharusnya.
Namun, kadang kita tidak menyadari akan kendali kita atau bahkan membiarkan diri kita tersesat. Menemui jalan yang memang tidak seharusnya. Banyak perkataan “andai” keluar tanpa menyadari akan apa yang sedang dilewati. Banyak penyesalan tentang keputusan yang harusnya memang menjadi sebuah tanggung jawab. Dan banyak dari kita begitu tenggelam, hingga lupa bagaimana caranya berenang atau hanya sekadar mengambil nafas.
Penulis merasakan hal yang sama. Jangan tanya, bagaimana keluar pada labirin hayalan kita masing-masing. Hanya saja kita memang kadang (harus) tenggelam, untuk merasakan betapa nikmatnya mengarungi lautan luas.
Kita punya tujuan masing-masing, hanya saja jalan yang kita pilih berbeda.
Senin, 26 Mei 2014
Tepat tengah malam…
Apa Kata Hati
Posted: May 9, 2014 Filed under: Tinta tumpah Leave a comment
Kadang, kita begitu sibuk memperbaiki diri hanya karena memenuhi bagaimana yang orang lain bicarakan. Tidak peduli sebanyak apa kamu memperbaiki, mereka punya dua puluh emapt jam tanpa berhenti mempermasalahkan mengapa diri kita tidak seperti yang mereka harapakan.
Ada kalanya kita menjadi begitu acuh dengan segala omong kosong belaka dan mereka (masih) mempunyai dua puluh empat jam tanpa berhenti merisaukan diri kita yang mengapa tidak begitu peka tentang apa yang mereka minta.
Pada hakikatnya, manusia yang sebagai makhluk sosial memang tidak bisa hidup sendiri. Manusia hidup berdampingan untuk segala aktifitas akan selalu membutuhkan orang lain untuk membantu pekerjaan mereka. Manusia hidup berdampingan untuk memenuhi teman berbagi kasih dan cerita. Manusia hidup berdampingan untuk memenuhi hidup yang kadang mereka tidak punya, pasangan misalnya.
Lalu di antara kita tidak sedikit yang begitu bergantung kepada mereka yang lainnya. Membutuhkan lalu serta merta merasa diri ini berharap berkelanjutan kepada mereka untuk menutupi akan ketidakmampuan kita. Harusnya menyadari, ada begitu banyak kelebihan dalam diri kita yang bisa membuat kita tidak malu akan kekurangan kita. Menyadari, kita kadang perlu mandiri untuk menjadi bagian yang diri kita mau.
Tidak peduli seberapa banyak waktu mereka merisaukan akan penampilan kita. Tidak peduli seberapa banyak kata yang mereka habiskan untuk membawa kita menjadi yang mereka mau.
Ada kalanya, apa yang mereka bicarakan jadikanlah sebagai list menu untuk membentuk bagaimana diri yang kita mau, bukan menjadi tolak ukur manusia yang sebenarnya. Bukan menyarankan menjadi pribadi yang berkarakter liar, akan tetapi tetaplah pada norma yang ada dengan pribadi berkarakter unik yang kuat.
Alamat Email Media yang Menerima Cerpen/Puisi/Esai
Posted: April 30, 2014 Filed under: reblog Leave a commentinformasi banget …
#IKLANBUKU
BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnaldantabloid yang menerima kiriman CERPEN/PUISI/ESAI.
View original post 1,442 more words
Saat Setangkai Bunga Mampu Berbicara
Posted: April 23, 2014 Filed under: Tinta tumpah Leave a commentTiga kali menghabiskan waktu dengan menanti hujan. Membiarkan sore dan pagi menjelang, menjemput serbuk sari-sari agar tumbuh subur dari burung atau belalang. Sesekali mengatupkan kelopak, agar embun pagi menjadi penyegar seusai ditemani malam.
***
Bukankah dulu kamu tidak seperti itu. Kamu yang kecil dulu sangat senang menjemputku di toko benih bunga. Kamu bilang, akulah pengganti matahari kala lamat-lamat memunculkan diri. Kamu bilang, aku teman setiamu saat sore berarak menjemput malam. Kamu bilang, aku pereda kegersangan dan pewarna kebosanan.
Sudah berapa lama kamu meninggalkan kebiasaan kita?
Kamu saat masih menggunakan seragam putih-merah masih bisa menemaniku pagi, sore dan malam. Kamu masih bisa menemaniku dengan pekerjaan rumahmu sambil membaca buku bergambar. Ketika kamu menggunakan seragam putih-biru kamu tidak banyak berubah, hanya saja kamu lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumahmu dan mulai membaca buku novel-novel cinta penuh melow drama. Saat kamu menggunakan seragam putih-abu, kamu mulai banyak berubah. Kamu semakin terbiasa menyelesaikan pekerjaan rumahmu di dalam kamar, kamu juga banyak menghabiskan waktu dengan menghitung angka berdamping huruf. Kamu menghabiskan waktu dan hanya menjengukku beberapa saat, lupa menemani. Melihatku hanya saat pagi tiba lalu sore dengan memberikan aku berlimpah air. Aku tahu temanmu semakin banyak, hingga kamu titipkan air pagi disore hari agar tak mau aku layu dan pergi.
Kini kamu semakin jauh, hanya datang menemuiku beberapa kali dalam sebulan. Itupun hanya sebatas pertemuan sore yang tidak berkesan. Kamu lebih menyibukkan dengan kotak kecil di sakumu dan kotak besar di dalam tasmu untuk membaca pesan teman.
Aku berfikir kamu memang sedang menyibukkan diri agar nanti mempunyai ruang dan waktu yang lebih banyak denganku. Aku terbiasa mandiri untuk menghidupi diri. Aku banyak menanti hingga kamu berkenan kembali membawa bukan hanya air untuk membasahi. Kembali memberiku pupuk dan menyuburkan tanah sambil menemani.
Aku senang kamu tumbuh dewasa. Menjadi lelaki yang penuh berwibawa. Diantara waktu yang banyak tertinggal, aku selalu mengamati setiap kegiatan walaupun dirimu lupa pada sebatang teman.
Andai aku mampu berbicara walau hanya mengucap beberapa kata. Aku tumbuh tanpa sebuah hati untuk bisa merasa, namun aku ingat pada setiap jasa. Suatu saat nanti, saat aku mekar dan berwarna. Kau akan memotong di sepertiga dahan, menutupi dengan plastik berwarna transparan. Lalu kau hadiahi untuk orang yang kau sayang.




Recent Comments